Masih tentang IPDN


Ternyata banyak yah yang nulis tentang kekerasan di IPDN, contohnya ini :

1. ERANDER
2. BIHO
3. ANGGARA
4. WADEHEL
5. RAHARD

Dan masih banyak lagi…..

Begitu burukkah rupa IPDN di masyarakat? Begitu jelekkah pengembangan diri gaya militer?

Ah…saya kok tidak berpikir begitu…

Bagi saya, kasus di IPDN adalah bagian dari budaya. IPDN hanya sebuah institusi. Yang salah bukan institusinya tetapi budaya manusianya. Dimanapun…bahkan di kampus anda ( bagi anda yang merupakan seorang dosen atau mahasiswa )…masih akan ditemui gaya-gaya militer tersebut. Makanya kalau ada yang usul dibubarkannya IPDN rasanya kok saya kurang setuju ya…
Yang harusnya dipangkas menurut saya adalah budaya tersebut, harus ada sebuah lembaga yang mengatur masalah pembinaan gaya militer di kalangan sipil…seperti lembaga advokasi atau apalah gitu hehehe…

Menurut saya yang namanya masalah “kemiliteran” akan ada sampai anak cucu kita, dan juga telah ada dari jaman nenek moyang kita.
Yang namanya manusia itu punya kehendak atau insting untuk selalu eksis…untuk membela diri.

Naif rasanya kalau kita mau menghapuskan kemiliteran bahkan dalam kehidupan sipil.

Ya namanya ber-opini…sedikit beda boleh kan?

30 Tanggapan

  1. Setuju Pak. Cuma relevansi yang saya tanyakan adalah hasil akhir dari lulusan IPDN. Makanya, saya lebih cenderung mengusulkan perubahan kurikulumnya. Misalnya diberikan pelajaran ESQ, John Robert Power, The 7th habit dan manner lainnya. Karena Camat adalah pelayan masyarakat. Bukan militer.

    Trus, yang saya tanyakan kenapa cuma Camat saja yang lewat pendidikan. Sementara Gubernur, Bupati sampai Pak Lurah/Desa dipilih langsung oleh rakyat. Maaf kalo saya keliru. Maklum orang awam.

  2. kalau pendapat saya, mereka itu kan calon birokrat sipil yang nantinya akan melayani masyrakat, nah kalau pendidikannya aja sudah kayak gitu gimana nanti kalau sudah jadi birokrat beneran, bisa-bisa kalau ada yang minta pelayanan di gebukin dulu.

  3. aksi blogger berdemo membubarkan IPDN

    ayo prens…kita demo membubarkan IPDN, caranya kirimkan photo-photo
    demonstrasi dengan topik pembubaran IPDN, kirim dan lihat hasilnya di
    http://demo.kukuhtw.com/ipdn/

  4. […] oleh rekan-rekan blogger, sebut saja Agorsiloku, Kang Kombor, Wadehel, Erander, Layudhi, Mas Indra (maaf kalau ada rekan-rekan blogger yang belum […]

  5. Kalau saya tetap tidak setuju dengan penggunaan Militerisme untuk keperluan pembinaan di lingkungan Pendidikan Sipil. Okelah kalau dilingkungan Militer, selain karena mereka tahu batasan-batasannya mereka juga memang disiapkan untuk itu.
    Nah di lingkungan sipil, mereka asal pakai saja-asal adopsi saja tanpa tahu batasan-batasannya, dan hasilnya yahh seperti yang terjadi di ipdn dan di sttd

  6. @erander
    Wah kalau kenapa camat itu ditunjuk saya ngga tau kelihatannya negh kita harus melihat sejarah penempatan birokrasi komunitas wilayah…kayaknya sih…

    @gatra
    Ngga sebegitunya kali om, jangan terlalu apriori dulu ya…

    @Kukuh TW
    Hehehe…jangan terburu nafsu, masih banyak “IPDN-IPDN” yang bermekaran di dunia pendidikan kita. Di tempat anda gimana?

    @deking
    Thanks…lumayan iklan blog hehehe…

    @layudhi
    Banyak pembelajaran militer yang bagus…contohnya kedisiplinan…bagaimana?

  7. Boleh saja, perbedaan pendapat itu suatu manfaat kok.

    Sipppp….

  8. iya, aku dari dulu juga berpikiran seperti itu

    jadi pointny aaku setuju.
    bukan ipdn nya yg dibubarkan, tapi budayanya yg sadis itu .

    tapi budaya yg baik yg mungkin masih ada di ipdn, jangan sampai terhapus juga yahh…

    Harus diakui…merubah budaya memang susah, butuh pengetahuan, kerja keras dan waktu…tapi mungkin kok!

  9. @mamabhian
    sepakat…sepakat…

    @Luthfi
    trekbek gimana sih…maklum pemula hehehe…

  10. Solusi pembubaran memang masih jadi pilihan. Tapi bagaimana menghilangkan tradisi kekerasan di lingkungan intern IPDN, itu yang sangat susah kalau hanya sekedar lembaga advokasi.

    Pergantian Rektor sudah pernah, terus pergantian nama, dan juga pemindahan kuliah ke IIP, tapi tetap saja kultur kekerasan sudah menjadi “darah daging” di STPDN. Maksudnya bukan cuma prajanya yang memelihara kultur itu, tapi juga dosen, pengurus, sampai aturan-aturan di dalamanya (sistem) juga berisi tradisi kekerasan.

    Jadi apa yang pantas untuk hal seperti itu ? Pembubaran jadi opsi teratas. Saya nggak tahu kalau ada pilihan lain, tapi siap-siap melihat kematian dilain hari.

    Nice argue…tapi jujur aja ya om…sebagai orang sipil tentu saya kaget dengan metode kepelatihan seperti itu…yang harus dibenahi nampaknya sudah anda jawab sendiri, KULTUR BUDAYA nya, bukan institusinya. Institusi itu seperti benda mati ( analogi : ketika anda tersandung batu, apakah anda menyalahkan batu yang ada disitu? Bukan begitu kan? Anda harus merubah letak batu tersebut sehingga tidak ada orang lain yang tersandung ).

  11. klo menurutku sih, STPDN or IPDN or whatever lah namanya, sangat ga cocok klo diberi kultur militer…
    kenapa? karena toh mereka nantinya bakal jadi Pegawai Negeri Sipil… SIPIL man… bukan MILITER…
    jadi ngapain dikasih pendidikan ala militerisme… ga cocok, toh paling banter mereka ntar kerja di pemda atau pemkot, atau paling bergengsi (bagi mereka) cuma jadi camat… so???
    harusnya sih bener kata erander, di IPDN or whatever lah… mestinya dikasih pendidikan yang lebih kearah pembentukan kepribadian yang “bisa melayani masyarakat” bukan kepribadian militer…

    Kepribadian Militer…istilah yang menarik…tapi jujur aja saya ngga mudeng, kepribadian militer menurut mas gimana. :peace:😀

  12. Mas, terimakasih sudi berkunjung ke blog saya, saya memang frustasi mendengar/membaca/menonton video kekerasan ipdn.
    37 kematian. Kalau adik mas yang dipukuli sampai mati bagaimana?.
    Ini contoh calon pemimpin bangsa?.
    Ini bukan militerisme, ini premanisme yang dibayar oleh uang rakyat, hasilnya untuk memimpin orang seperti saya?.

  13. saya sih memang bodoh, tapi saya tidak jahat, tidak preman, dan tidak korupsi uang negara…..

    Dan, saya merasa Cliff adalah saudara saya, meski saya tak pernah bertemu. Saya betul-betul merasa ikut teraniaya Mas. Jadi emosi betulan.

    Andaikan saya preman juga, saya akan gebuki Rektornya, karena dia adalah biangnya.

  14. @agorsiloku
    itu hak anda, dan saya menghargai hak anda…
    seandainya salah satu praja atau dosen di ipdn adalah saudara anda yang tidak setuju sebenarnya dengan kekerasan itu, dan kehilangan “masa depan” hanya karena ulah oknum. Apa yang anda perbuat?
    Tapi bagaimanapun, berpendapat adalah hak setiap individu…dan anda juga berhak!

  15. […] Juga : TULISAN SAYA OPINI TENTANG BERHARGANYA NYAWA […]

  16. Ane setuju mas,…….. Budayanya yang seharusnya kita coba reduksi sedikit demi sedikit, karena tidak adil jika perilaku oknum menjadi penilaian yang digeneralisir menjadi perilaku seluruh institusinya, bagaimana jika anda sekalian yang ada didalamnya ataupun adik anda atau saudara anda saya yakin penilaiannya akan berbeda, karena mereka yang didalam begitu susah payah memasuki lembaga tersebut kini harus meratap jika lembaga tersebut harus bubar…..
    Saya kira dengan menghujat, mencaci, memaki, menghukumnya dengan memojokan tidak menjadi suatu hal yang bijaksana terlebih menyelesaikan masalah………..malah akan timbul masalah lain,..akan lebih baik kita sama-sama memberikan kritikan yang membangun, apa alternatif solusinya, yang dapat kita pilih dengan mempertimbangkan nilai resiko terkecil dan memperhatikan kepentingan banyak orang…….
    thanks banyak……..nugs ank 14

  17. R E N U N G A N

    ASS…….Saudara- saudaraku yang tercinta kita tahu Semua hal dimuka bumi ini pasti memiliki sisi negatif, tetapi akan sangat tidak bijaksana jika kita hanya termakan oleh suatu hal dalam satu sudut pandang saja.

    Saya ingin mengajak untuk kita berfikir secara logis, bahwa kita mengenyampingkan begitu banyak kasus kematian, yang diakibatkan oleh pembinaan fisik, baik itu dinamakan ospek, mapram dll, yang dilakukan oleh institusi pendidikan,tetapi kenapa hal tersebut terkesan dingin…………………

    Dan sekarang satu kasus kematian Cliff M, Menyudutkan satu lembaga secara keseluruhan. Masih banyak hal positif yang dapat dilihat….yang bisa kita lihat konkritnya Gubernur Jawa Barat merupakan Lulusan APDN (cikal bakal STPDN) dan banyak lagi pejabat yang mungkin tidak bisa saya sebutkan………..

    Jangan hubungkan semua birokrat dengan koruptor, apalagi dengan menghubungkan IPDN didalamnya, insyaalloh tidak semua saya jamin begitu, masih banyak yang secara amanah memegang amanat rakyat dengan sepenuh hati…………………………………………………………………………………

    Saya kira (bukan maksud saya takabur) siswa yang masuk IPDN bukan siswa yang IQ jongkok, tetapi memang mereka cukup berprestasi shingga dapat melewati begitu banyak tes dalam seleksi masuk Sekolah tersebut, dari situ, apakah kita menilai orang2 yang masuk kedalam sekolah tersebut memiliki bibit preman?????

    Apalagi didalamnya orang2 yang cukup berprestasi tersebut dididik lagi dengan didikan yang cukup, sehingga, apakah dengan didikan tersebut keluar output menjadi seorang preman, atau orang yang tidak memiliki hati nurani, terlebih lagi didikan agamanya cukup baik……………………………………….

    Jadi mari kita berfikir dengan dewasa, untuk membedakan antara tingkah oknum dengan tidak menilai dan memojokan satu institusi…………….

    Saya beri analogi sederhana, jika suatu saat ada wanita cantik dihadapan kita, apakah kita dapat melihat kecantikannya dengan hanya melihat dari belakang????? yang kita lihat hanyalah punggung wanita tersebut,…apakah kita dapat menilai dia cantik dengan hanya melihat punggungya ? ?.

    Hal tersebut yang terjadi dengan lembaga IPDN, Lembaga tersebut telah dipojokan sehingga titik positif yang ada pada lembaga tersebut hilang sama sekali……….jadi masyarakat telah digiring kepada satu sudut pandang saja dengan tidak melihat sudut pandang yang lain.

    Lembaga tersebut memang salah, tetapi tidak bijak jika harus munyudutkan, menghujat, menghina dll, tetapi akan lebih bijaksana apabila kita memberikan kritisi kita yang membangun……………………APAKAH JIKA NEGARA INDONESIA MEMILIKI KESALAHAN YANG BESAR, NEGARA INDONESIA HARUS BUBAR ??????!!!!!????

    Teman mari kita berpikir bijak jangan hanya memojokan, mengolok-olok, mencela, menghina, dll….

    Saya yakin teman2 di luar sana lebih arif, lebih bijaksana, lebih pandai, punya intelektual yg baik tidak seperti senior2 STPDN (katanya calon koruptor, tidak punya hati nurani dll)………

    Mari kita analisis berita yg berkembang :

    1. Berita yg menyatakan bahwa yg meninggal karena kekerasan berjumlah awalnya 35 orang kemudian menjadi 27 orang.
    mari kita berpikir logis, STPDN/IPDN sampai sekarang baru mencetak 18 Angkatan jika kita rata2kan berarti dalam satu tahun terjadi 1-2 orang yg menjadi korban kekerasan, tapi apakah kebuktiannya seperti itu? apakah sebejat itu praja STPDN yg nota bene perwakilan yg masuk ke STPDN hanya 2 dr masing2 Kab/Kota?
    jika memang dalam satu tahun terjadi pembunuhan 1s/d2 orang saya yakin tiap tahun akan terjadi tawuran antar angkatan dan pasti tiap tahun akan mencuat ke media. tapi kebuktiannya tidak seperti itu.

    2. Berita yg menyatakan bahwa telah terjadi sex bebas sampai 600 lebih kasus antara tahun 2000 s/d 2006 atau selama 6 tahun (Sumber Inu Kencana)
    jika kita rata2kan berarti dalam setahun telah terjadi sex bebas sebanyak 100 lebih, mungkinkah seperti itu???? dimana Praja hidup dalam asrama yg dihuni oleh sekitar 50 orang serta diawasi.

    3. Andaikan kejadian kasus meninggalnya Cliff Muntu 10 tahun kemudian, menurut teman2 video amatir mana yg akan ditampilkan???? saya yakin video amatir itu yg akan ditampilkan.
    yg saya tau video itu hasi rekaman kegiatan pelantikan anggota Drum Band STPDN tahun 2003 sebelum terjadinya kasus Wahyu Hidayat Alm. apakah memang STPDN tidak melakukan Perubahan??…..
    pada tahun 2003 telah terjadi pemisahan antara senior dgn juniornya, dimana seniornya kuliah di IIP Jkt, sementara juniornya di Jatinangor, jika Teman2 mendengarkan jumpa pers yg dilakukan oleh Praja, Wakil Gubernur Praja menyatakan bahwa “Saya tidak pernah dipukul oleh senir dan tangan saya ini tidak pernah memukul junior” pernyataan itu adalah benar karena rantai kekerasan telah terputus semenjak seniornya dipindahkan ke Jakarta. Lantas kenapa terjadi lagi…?
    Cliff Muntu Alm. adalah praja yg rajin ikut ekstrakulikuler, Alm. mengikuti korp Drum Band, Polisi Praja, Ketua Utusan, dan Pasukan Tanda Kehormatan (Pataka) yg nota bene organisasi tersebut adalah organisasi yg cukup bergengsi di STPDN shg mungkin karena egonya dilakukan “Pembinaan” yg keras, jika teman2 mengikuti berita terus dapat kita ketahui bahwa “Pembinaan” terhadap Cliff Muntu terjadi setelah kegiatan selesai atau setelah apel malam (apel malam dilaksanakan jam 21.00) sebagaimana diungkapkan oleh Rektor STPDN bahwa kegiatan ini adalah ilegal dan dilakukan sembunyi2. padahal tidak jarang organisasi diluar STPDN pun (Organisasi di Universitas lain) banyak terjadi korban penganiyayaan oleh seniornya, tapi kenapa sampai ke lembaganya dipojokan bahkan alumninya juga tidak luput? padahal STPDN telah melakukan perubahan.

    4. Berita yg menyatakan bahwa kasus narkoba sampai ribuan, ya silahkan rata2kan sendiri oleh teman2 sekalian selama 6 tahun sampai ribuan, apakah sebejat gitukah praja STPDN, padahal mereka masuk ke STPDN melewati berbagai test, apakah pemeriksa kesehatan dr masing2 daerah lemah sehingga pecandu2 narkoba bisa lulus ke STPDN.

    Pesan buat teman2 yg budiman jangan hanya melihat apa2 yg diberitakan oleh media, kemudian membenci, memaki, anti STPDN (anti kekerasan Ok) tanpa mengetahui sebenarnya apa yg terjadi sesungguhnya dan yg paling diperlukan bukannya cacian atau makian tapi bagaimana upaya untuk memperbaikinya. berikan solusi bukan cacian!….
    dan sampai sekarang ini belum terbukti bahwa alumni STPDN adalah birokrat yg dekat dengan korupsi, atau tidak berhati nurani. bahkan di setiap daerah alumni STPDN dapat dipercaya dan mampu melaksanakan amanah, alumni APDN/STPDN sudah banyak yg diberikan kepercayaan mulai dari Menteri Negara, Gubernur, Walikota/Bupati, Kepala Dinas, Kepala Badan, Camat, Lurah dll ini menunjukan bahwa memang alumninya mempunyai kualitas yg lebih….

    terima kasih atas kesempatan teman2 membaca tulisan ini…

  18. ga suka ah,, kata kata “oknum,,”

    Kalo emang ada cara laen biar orang ga disiksa lagi selain IPDN dibubarin,, boleh deh,, tapi jangan disiksa lagi,, cape tuh anak orang diasuh dari kecil cuma buat disiksa begitu,, kecuali kalo mereka siap fisiknya (misalnya masuk akademi polisi) baru pake ala militer,,

  19. @Orang Kuereeeen
    Makasih atas tulisannya mas. Panjang memang, tapi tujuannya jelas kok.
    Kadang kita harus melihat dari sisi yang lain sehingga tidak latah dengan apa yang namanya suara mayoritas.
    Saya setuju kalau rektor IPDN dipecat, karena bagaimanapun dia adalah kepala di dalam lingkungan IPDN dan harus bertanggung jawab.
    Saya juga setuju kalau “oknum” ( mbak risma ga suka ya, maaf…) itu dihukum.
    Tapi saya menolak kalau IPDN dibubarkan karena tidak akan menyelesaikan masalah.
    @Rizma Adlia
    Yah,,,caranya adalah merubah paradigma praja yang masih kayak ‘preman’ itu. Butuh waktu, tapi bisa…dan itu juga butuh semacam badan pengawas sehingga kejadian ini tidak berulang. Semoga…

  20. ipdn kadang2 juga bikin keadaan jadi nggak adil.
    nggak adil kalo lulusan universitas lain kesempatan jadi camatnya ilang😛

    Hahaha…ya…ya…ya…
    Ngga sempet terpikir tuh…smart!

  21. […] sehingga saya harus ( halah kejar setoran posting aja! hehehe :D) memposting tema ini tiga kali, disini, ini dan tulisan berikut ini. Ini kumpulan komen saya di blog kawan-kawan yang membahas tentang […]

  22. buat Joesatch, lulusan universitas lain, baik negeri maupun swasta, sama sekali ga kehilangan kesempatan menjadi camat…anda bisa liat sendiri kan… saat ini masih banyak camat yg berasal dari Sarjana Hukum, Sarjana ekonomi, sarjana pertanian, sarjana sosial, dan bahkan ada juga sarjana pendidikan (guru). Hal ini sah-sah saja karena camat bukanlah kepala wilayah sebagaimana pada era UU 5 th 1974, akan tetapi sesuai dengan UU 32 th 2004, camat adalah perangkat daerah yg dapat diangkat dari PNS yang memenuhi persyaratan secara administratif, dipandang cakap, kapabel dan layak untuk menduduki jabatan tersebut…

  23. jadi ga usah men”judge” posisi camat hanya semata2 akan ditempati para lulusan IPDN?memang seh… dibeberapa daerah para lulusan STPDN (sekarang IPDN) yang mengisi formasi jabatan tersebut…hal ini disebabkan mereka telah memenuhi persyaratan2 yg saya sebutkan di atas, soal kinerja dan kualitas pelayanan kepada masyarakat, anda bisa liat di lapangan, mana yg lebih hebat…apakah camat yg alumni STPDN atau alumni lainnya???

  24. Mau yang namanya STPDN atau IPDN sama saja.
    Kalau mau dibubarkan saya gak setuju.
    Itu sekolah sudah banyak menelorkan pejabat2 dan orang – orang penting di negara kita, koq mau dibubarin.
    Kemiliteran di sekolah menurut saya masih harus tetap ada, Supaya generasi kita gak jadi generasi jam karet, harus punya kedisiplinan yang tinggi, tau korsa (susah senang ditanggung bersama), supaya tingakatan solidaritas sesama teman senasib dijunjung tinggi.
    Bisa dihitung berapa korban yang terjadi dalam kurun waktu yang lama, dan perlu diketahui, kakak kelas atau senoir yg memberi hukuman pun tidak asal saja, tetapi pada taruna yang bandel atau sudah diberitahu berulang-ulang. Tempat tersebut adalah pendidikan, jadi wajar hkuman diberikan kepada seseorang yang mbandel dan tidak mau nurut. Putra putri anda jangan khawatir masuk IPDN, selama dia mau mengikuti aturan, tidak sombong dan tidak melawan kakak kelas. supaya tidak kuwalat.
    Saya bukan lulusan IPDN, dan saya juga bukan bagian dari kelompok institusi tsb. Saya merasakan juga manfaat dari sisi kemiliteran yg diterapkan disekolah saya. Apalagi jaman sekarang kemiliteran dan nilai nasionalisme harus masih dipelihara. coba saja suruh anak SMA menyanyikan lagu perjuangan, pasti hanya sebagian saja yg ingat, kebanyakan malah lebih lancar nyayi lagunya ungu, Radja dan peterpan.
    Apalagi disuruh upacara bendera, mereka setengah hati. Bagaimana ini siapa yg bertanggung jawab kalau nasionalisme pada diri kita lama2 makin pudar. Bisa2 pulau kita yg banyak pada diambili orang. Jadi jangan ambil negatifnya saja tentang militer tapi lihat sisi positifnya. kalo pak camat gak disiplin, suka datang telat gimana dia mau melayani masyarakatnya?…

  25. kabar petisinya gimana ya? Di peti(si) es kan atau gmn? Jangan sampai orang buta menuntun orang buta ya…

  26. Loee… pada tau gak sih, kalau Inu Kencana Syafeii itu ternyata orang Bali yang lahir besar di padang. Punya Track Record Stress pada saat APDN jayapura, disersi dari pendidikan ke Pilipina hingga Singapura. Pasca ditangkap, dia stress ditinggal kematian ortunya. Eh….dia malah “atheis” dan berkelana pindah agama selama dua tahun bro……gile….. Di UGM desertasinya ditolak para profesor karena egosentris….Uniknya dia cerita freesex di kalangan IPDN, ternyata dulu kata mahasiswanya Inu Kencana Syafeii suka menceritakan porno dan sex dikelas hingga mahasiswanya yang cewek pada malu. Ehh….mahasiswanya ketawa di gampar. Malah Pernah dia lecehkan secara Sex. Kalau muridnya gak Suka, Inu Kencana Syafeii malah maksa menyumpah muridnya dengan cara ajarannya, gak peduli apakah Mahasiswanya seagama atau tidak apa lagi tidak se etnis. Mana bagi kami orang Bali itu sangat tabu. Uniknya inisial “ETS” dibukunya itu, adalah wanita terhormat dan sopan yang menolak INU Kencana Syafeii ketika Inu memaksanya untuk berpoligami menjadi istri keduanya. Maka kita harus waspada, jangan terkecoh oleh mulut berduri dan berbulu INU Kencana Syafeii………….. Hati-hati brurrrrrrrr

  27. Gue geli lihat para komentar katrok wong ndeso tentang IPDN….klo IPDN dikatakan sipil yang sok bergaya militer, apa wong katrok yang ngomentar di atas gak ngaca, dulu dari SD hingga Sarjana pernah pakai seragam gak? pada upacara gak? belajar baris masuk kelas gak? pada pakai jas alamamater gak? Pegawai Pemda dan Pemerintah pada Upacara dan PAkai Seragam apa nggak?
    Nah coba loe pada mikir, apa itu termasuk, militer…….mari kita berpikir ………………….

    Wah kok IP nya sama ya ama yang diatas! Maksudnya apa nih? *Oot Mode:on*

  28. sy suka baca tulisan2 di sini, setelah sy baca2 beberapa blog, pokokx tulisan2 tentang ipdn di internet tulisan2 di sinilah y paling beradab n bisa kasih saran n kritik y membangun.
    sy praja IPDN. sy sangan berterimakasih atas segala urun pikir kakak2/rekan2 atas kampus sy.
    di sini sy tidak mau membela diri, walo segala pemberitaan media membuat saya mengelus dada, membuat sy ingin berteriak tidak semuanya benar!!
    banyak rekan2 sy sesama praja yg patut dijadikan teladan, banyak kegiatan kami y positif.
    sy marah, sedih melihat rekan sy mati terbunuh, tp tidak cukup alasan bagi sy untuk spenuhnya menyalahkan mereka pembunuh rekan saya. mungkin sistem y mbuat mereka melakukannya. sangat benar jika IPDN perlu recovery, pembenahan sistem n pembenahan slr komponen y terlibat dlm sistem itu.
    sy akui banyak penyelewengan di institusi ini, sy miris melihatnya, krn sy anggap IPDN adalah miniatur Indonesia, setiap provinsi mengirimkan utusannya untuk hidup, dididik di sini. di sini kami belajar kebudayaan daerah lain, kami saling mengisi, saling mempelajari.
    maksud Bp Rudini baik, kami di persatukan di sini dari seluruh penjuru negeri untuk belajar. bukan untuk menjadi ilmuwan tetapi untuk menjadi orang lapangan. itulah bedanya dengan sarjana2 dari lulusan perguruan tinggi pada umumnya.
    memang tidak sepantasnya kami menyelewengkan maksud Pak Rudini, tdk sepantasnya kami mengecewakan rakyat.
    untuk teman2 ku praja, ayo tunjukan sikap!
    kita harus berubah..bukan khayalan kita bisa lebih baik, tunjukan bahwa kita pantas dibanggakan.

    semoga saja semuanya mulai berbenah… satu langkah awal adalah jalan menuju perubahan

  29. mas budaya sih budaya tp anak orang ko nyampe mati gitu kan kasian anak orang, emangya binatang biasa di bunuh

    ya yang salah yang bunuh dong mas, masa klo ada orang Indonesia membunuh, negara Indonesia harus dibubarkan, ya ndak gitu tho?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: