Cantik, Selamat Hari Kartini


SELAMAT HARI KARTINI

Buat perempuan semuanya, buat pecinta perempuan dan semua yang menghargai dan menghormati perempuan.

Dari rahim perempuan lah akan terbentuk manusia-manusia pembaharu.

==============================================================

Sekedar menambahkan sebuah tulisan yang saya dapat dari mailing list Manajer Indonesia, semoga menjadi bahan pemenungan,,,,,

PENJAJAHAN ATAS PEREMPUAN INDONESIA

 

MASIH TERJADI

n

Pedangdut Kristina di larang bernyanyi oleh sang suami, ditandai dengan pembubaran manajemen yang selama ini menaungi Kristina. Manajemen tersebut di koordinir oleh kakak kandung Kristina. Inilah humor kehidupan terbaru.

Lagi-lagi kalau mau jujur, sebetulnya itu urusan rumah tangga Kristina dengan sang suami. Namun karena media mengulas berita tersebut dan saya sebagai penikmat informasi menanggapi informasi tersebut sebagai wacana berpikir.

Pelarangan bernyanyi bagi pedangdut Kristina setelah menikah adalah penjajahan terhadap perempuan Indonesia di abad modern. Apalagi sang suami menjabat sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Jika pejabat yang seharusnya menjadi panutan masyarkat saja mempunyai pemikiran sempit dan memberi conton seperti itu, maka tak heran kalau penjajahan atas perempuan di Indonesia tidak pernah usai. Jadi tak usah ragu kalau anda mau mentertawakan prilaku anggota dewan., karena lakon mereka memang layak ditertawakan.

Persoalannya bukan sekedar sang suami cukup mampu bahkan mungkin lebih dari mampu memenuhi kebutuhan materi Kristina. Tapi sang suami lupa, di balik sosok Kristina ada banyak manusia yang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Jadi tak heran pula kalau jumlah masyarakat miskin bertambah.

Kebetulan peristiwa tersebut terjadi di bulan April yang bagi bangsa Indonesia di peringati sebagai Hari Kartini, tepatnya 21 April. Selama ini ada salah kaprah cara mengenang atau memperingati jasa RA Kartini. Bertahun-tahun di tandai dengan beramai-ramai mengenakan busana daerah.

Mungkin RA Kartini di alam fana menangis, melihat perjuangannya kembali dimentahkan. Model-model pelarangan suami atas profesi dan eksistensi istri di komunitas tertentu, menunjukan kepicikan para lelaki yang berpikir egois.

Kartini memperjuangkan bukan sekedar emansipasi. Kartini berjuang sebagai manusia tertindas karena system dan budaya. Ini yang seharusnya terus di perangi dengan membangun system yang lebih baik. Sudah saatnya pemerintah sebagai pengelola Negara memfasilitasi. Bukan mengistimewakan perempuan . Adanya UU dapat melindungi perempuan.

Selama ini, dunia kerja, dunia pemerintahan adalah dunia kaum lelaki. Di Indonesia, mayoritas penduduknya meyakini lelaki sebagai pemimpin. Di dukung keyakinan semacam itu dan budaya yang terus di hidupkan tanpa melihat kemampuan individu membuat tampilnya pemikir-pemikir dan pekerja-pekerja pempuan sebagai suatu ancaman. Entah ancaman apa.

Sudah saatnya pola pikir masyarakat di ubah. Siapa yang bisa merungah? Ya masyarakat itu sendiri dengan difasilitasi oleh pemerintah sebagai pengelola negara. Pemikiran Kartini yang juga menjadi keinginan Kartini adalah melihat kaumnya yang notabene perempuan, mendapat hak yang setara dengan laki-laki dalam memanfaatkan kemampuan diri. Artinya Kartini sejak dulu sudah sadar dan tahu, kemampuan intelektual perempuan dan laki-laki tidak jauh berbeda. Jika perempuan di beri kesempatan yang sama, sebenarnya Indonesia bisa jauh lebih maju.

Kasus yang terjadi pada diri Kristina adalah nasibnya sendiri. Ia menghadapi dilema yang tidak mudah. Karir dan keluarga ibarat dua sisi mata uang. Sulit untuk dipisahkan tapi kalau ada unsur kekuasaan di sana , saya tak terkejut jika mata uang itu bisa di belah.

Namun kalau Kristina, perempuan yang punya pemikiran tersendiri dan harga diri yang tinggi, ia pasti mampu mendapatkan apa yang memang layak ia dapatkan.

Artinya sebagai perempuan menikah, ia sadar akan kewajibannya mempertahankan keutuhan pernikahannya. Tujuan dan motivasi menikahi laki-laki yang kini menjadi suaminya akan kembali di evaluasi. Persoalannya sejauhmana kematangan Krisrina mengenai kesadaran hak dirinya sebagai manusia yang kebetulan berjenis kelamin perempuan mempunyi hak bersuara dan mempertahankan miliknya.

Tapi sampai berapa lama, sang suami mampu memisahkan Kristina dari karir dan komunitasnya? Tinggal menunggu waktu. Saat ini bukan hanya orang-orang di manajemen Kristina yang tersakiti, tapi pastinya juga orang tua dan saudara-saudara kandungnya. Termasuk para penggemarnya.

Terlalu sempit jika sang suami beranggapan Kristina bernyanyi untuk mengejar uang. Dulu di langkah awalnya, tujuan tersebut tak bisa di pungkiri, tapi ketika namanya sudah melambung, pelarangan Kristina bernyanyi untuk konsumsi masyarakat di bayar atau tidak di bayar, adalah pelanggaran yang sangat mendasar bukan hanya bagi Kristina tapi juga bagi para penggemar Kristina. Apa salah para penggemar Kristina sehingga mereka tidak boleh mendengar atau menyaksikan Kristina beraksi?

Tindakan yang diambil suami Kristina adalah haknya sebagai suami yang beranggapan istrinya hanya pantas di lihat olehnya. Tapi sang suami lupa, seindah-indahnya sangkar emas bagi seekor burung, hutan belantara jauh lebih indah karena menawarkan kebebasan.

Saya berharap rumah tangga Kristina menjadi rumah tangga yang di contoh banyak orang. Selain karena sosok Kristina yang memiliki banyak penggemar tapi juga karena sang suami adalah anggota DPR. Sehingga keduanya patut menjadi tauladan. Selain itu saya adalah perempuan yang menghormati komitmen dan institusi lembaga pernikahan. Apapun persoalan yang terjadi dalam rumah tangga tersebut baikknya diselesaikan tidak dengan perceraian.

Namun saya tetap perempuan yang beranggapan harus ada kesetaraan dalam posisi suami dan istri. Saya tidak menyukai bahkan kalau bisa mengharamkan perceraian namun demikian saya lebih menyetujui perceraian jika ada penindasan atau penjajahan dalam lembaga pernikahan tersebut. Lembaga pernikahan bukanlah lembaga penjajahan atau penindasan, sebaliknya saling asah, asih dan asuh seharusnya menjadi visi dan misi mereka yang sepakat mengikatkan diri dalam pernikahan.

Kembali pada relevansi peringatan hari kartini dengan kasus Kristina, saya cuma ingin mengingatkan, bahwasannya masih banyak model-model penjajahan perempuan di Indonesia . Selain situasi dan kondisi memungkinkan, para perempuan sendiri mulai terlena dengan kemampanan sehingga lupa perjuangan kaum perempuan belum selesai.

Semua perempuan idealnya adalah calon ibu, tentu di harapkan melahirkan generasi perempuan yang lebih progresif dalam berpikir dan bersikap. Namun kalau banyak yang terlena dengan kemampanan, maka perjuangan Kartini menjadi mentah dan perjuangan perempuan akan kembali ketitik awal.

Pemerintah sebagai institusi pengelola negara tidak boleh tinggal diam atau tutup mata. Ambur adulnya kondisi perekonomian sangat berdampak pada kemiskinan dan ujung-ujungnya para perempuan dan anak menjadi korban. Ini dapat di lihat dari meningkatnya tindak kekerasan yang korbannya perempuan dan anak.

Dalam rangka meneruskan dan mewujudkan cita-cita Kartini, mari kita berpegang tangan dan berjuang untuk menjadi pasangan setara bagi kaum laki-laki untuk mengisi kehidupan. Dengan bahu membahu berjuang untuk kesejahteraan masyarakat luas bukan hanya untuk diri sendiri atau segolongan saja. Janganlah kita megingat perjuangan Kartini dengan pemahaman yang akhirnya cuma jadi humor kehidupan. Jujur saya tidak tahu apa relevansi peringatan jasa dan cita-cita RA Kartini dengan baju daerah.


Best Regard
Erwin Arianto,SE

Satu Tanggapan

  1. Susah juga mengetahui keinginan Kartini yang sebenarnya, hanya Kartini-lah yg benar2 tahu apa yang dia inginkan.
    Sepertinya banyak wanita yang kebablasan, mereka seperti menganggap emansipasi adalah suatu upaya penaklukan laki2. Mereka ingin lebih hebat dari laki2.
    Laki2 juga SALAH, mereka sering menganggap wanita sebagai makhluk lemah dan mereka juga sering takut jika mereka akan “dikalahkan” oleh wanita (khususnya pasangan sendiri).
    Alangkah indahnya jika laki2 wanita hidup berdampingan dan saling melengkapi. Tuhan menciptakan manusia berpasangan adlah BUKAN untuk saling MENGALAHKAN tetapi untuk saling MELENGKAPI

    Yaaaa…Sepakat sekali om!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: