Kena Tilang, 50 Ribu Melayang!!!


Dalam perjalanan menuju Kopeng (Magelang) tanggal 2 Juni 2007 kemarin, di tengah jalan saya disalip oleh sebuah jeep polisi. Perasaan udah ngga enak, pasti di depan akan ada razia…apalagi saya datang berombongan bersama teman-teman yang lain. Dan benar saja, pas di tikungan (napa ya, kalau ada razia kebanyakan letaknya di tikungan jalan) ada beberapa orang polisi menyetop para pengendara yang lewat di jalan tersebut.

Nah salah satu kawan saya ternyata tidak membawa SIM (dipinjem kakaknya, katanya lho), kena deh STNK teman saya itu disita oleh pak polisi. Karena ingin cepat, maka teman saya tersebut mencoba melakukan negosiasi dengan bapak polisi untuk menitipkan uang denda. Dan terjadilah dialog kira-kira seperti ini :

Si Kriwil, kawan saya (SK) :” Pak kalau nitip uang denda boleh ngga?(Ini salah! Jangan Ditiru!)”
Bapak Polisi (BP) :”Boleh saja”
SK : “Kalau nitip dendanya berapa pak?”
BP : “Lihat saja ini sendiri (sambil menunjukkan tabel denda yang kolomnya ditulis tangan)”
SK : “Hah, masa sampai lima puluh ribu sih pak, saya cuma bawa uang dua puluh ribu nih”
BP : “Ya udah, sidang saja ya!”(lalu menuliskan surat tilang di lembar warna merah)”
SK : “Aduh pak saya terburu-buru, lagian jauh pak kalu sidang, saya dari Jogja”
Kemudian dengan berlagak sok pahlawan saya datang mendekati kawan saya yang sedang berdialog dengan bapak polisi tersebut.
Kata saya (KS) : “Pak nitip saja deh, terburu-buru nih, bagaimana?”
BP : “Lah bagaimana mau nitip, uang nya saja kurang, masa saya yang harus nambahin uang dendanya?”
KS : “Saya mohon kebijaksanaan bapak deh”
BP : “Sudah lah sidang saja, bisa bangkrut saya kalau harus nombokin yang nitip seperti ini” (menuju ke belakang mobil jeep nya)
KS : (saya mengikuti dari belakang dengan sok kaya) “Ya sudah pak, saya nitip dendanya (sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan), tapi saya minta surat tilangnya”
BP : “Boleh saja (lalu menerima uang saya dan menulis di kertas sobekan surat tilang)”
KS : “Wah pak, nomor serinya kok beda dengan surat tilang yang ditulis tadi”
BP : “Ya ngga apa-apa, pengadilan ngga akan nanyain nomor serinya, yang penting ada suratnya (yang dimaksud surat adalah kertas kecil hasil sobekan surat tilang)

Akhirnya saya meninggalkan bapak polisi tersebut sambil membawa robekan surat tilang tadi. Dalam hati saya tidak percaya kalau uang tersebut bakal disetorkan ke pengadilan. Sambil menunggu kawan-kawan yang lain, kita ngobrolin masalah tilang tersebut, mungkin karena mendengar kawan saya yang nyeletuk biar disidang saja, maka bapak polisi tersebut memanggil teman saya dan mengatakan untuk ikut sidang saja. Ya sudahlah terpaksa teman saya mengambil surat tilang tersebut dan bersedia ikut sidang.

Sampai di rumah salah seorang kawan saya di daerah Kopeng, yang punya motor dan STNK nanyain tentang benda miliknya tersebut. Dia berencana pergi luar kota..nah lo..akhirnya teman saya balik lagi ke tempat razia dan menitipkan uang lima puluh ribu (Rp 50.000). Kawan saya tersebut bilang tadi polisinya tersinggung dengan ucapan kawan-kawan saya. Namun dengan pendekatan ini-itu akhirnya STNK dapat kembali ke tangan (tentunya sambil menitipkan uang lima puluh ribu tadi).

Nah, setelah kejadian tersebut…saya baca-baca mengenai surat tilang…ternyata ada 2 macam lembar surat tilang ( warna merah dan warna biru )

Warna Biru : Formulir biru adalah menerima kesalahan (artinya tidak perlu berdebat dengan hakim). Dengan form ini bayar denda di BRI yg ditunjuk. Sehabis bayar denda resmi ke BRI, ambil SIM atau STNK yang disita ke kantor Ditlantas setempat.
Warna Merah : Formulir merah artinya anda tidak terima kesalahan yang dituduhkan, dan diberikan kesempatan untuk berdebat atau minta keringanan kepada hakim. Biasanya tanggal sidang adalah maksimum 14 Hari dari tanggal kejadian, tergantung Hari sidang Tilang di PN (Pengadilan Negeri) bersangkutan.

Wah kenapa kalau kita ditilang ngga pernah ditawarin untuk menerima formulir tilang warna biru ya, kan prosesnya mudah, uang pasti masuk ke kas negara dan waktunya bisa disesuaikan dengan kesibukan kita. Sebaiknya kalau ditilang kita meminta surat tilang warna biru agar tidak dianggap melakukan penyuapan dan menghindari praktek korupsi. Apalagi masyarakat bisa melaporkan polisi yang mengutip ‘denda damai’ itu lewat Kotak Pos 7777 di Mabes Polri atau 777 di tiap polda dan polres. Kalau ada yang menyuap polisi? Bisa diancam hukuman 2 tahun 6 bulan penjara. Nah lo…

Berikut ini tips apabila kena tilang,

1. Jangan panik, tenangkan diri Anda.
2. Tepikanlah kendaraan Anda.
3. Siapkan SIM, STNK.
4. Kenali nama dan pangkat Polantas tersebut. Jangan hentikan kendaraan bila ada orang yang berpakaian preman mengaku sebagai Polantas.
5. Tanyakan kesalahan anda, pasal yang dilanggar dan berapa dendanya. Anda dapat meminta untuk turut melihat tabel pelanggaran yang dimiliki Polantas.
6. Cek apakah tuduhan pelanggaran Polantas tersebut benar atau tidak.
7. Bila tuduhan pelanggaran tidak benar, ajukan keberatan anda dengan sopan dan jangan tanda tangani surat tilang. Terimalah Surat Tilang tersebut sebagai panggilan sidang. Tanyalah tempat, hari dan jam sidang. Ingatlah kronologis kejadian. Anda akan beradu argumentasi dengan polisi tersebut di depan hakim.
8. Bila tuduhan pelanggaran tersebut benar, tanda tanganilah surat tilang. Tanyakan di mana dan kapan Anda harus membayar denda serta di mana dan kapan mengambil barang sitaan baik berupa surat atau kendaraan.
9. Jangan ragu-ragu untuk bertanya bila ada sesuatu yang tidak Anda ketahui atau tidak beres pada Surat Tilang.
10. Laporkan perilaku oknum polisi yang tidak memenuhi prosedur. Anda dapat hubungai Dinas Penerangan (Dispen) POLRI di nomor telepon 5234017, 5709250 untuk ketarangan lebih lanjut.
11. Jangan mencoba untuk menyuap Polantas. Anda dapat dikenakan sanksi untuk usaha menyuap pegawai negeri.

Dan ini daftar Tabel Pelanggran Lalu Lintas Yang Ditindak Dengan Tilang Sesuai Undang-Undang NOMOR 14 TAHUN 1992 Beserta Peraturan Pelaksanannya Untuk DKI JAKARTA

61 (1) Yo Psl. 23 (1) d Yo Psl. 8 (1) A UULAJ Yo Psl. 17 (3) & (4) PP 43/93
Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar rambu-rambu perintah atau larangan.
Denda Rp 15.000— Motor
Denda Rp 25.000— Mobil

61 (1) Yo Psl 23 (1) d Yo Psl 8 (1) b UULAJ Yo Psl 21 (1) & (4) PP 43/1993
Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar marka jalan yang berupa garis utuh membujur tunggal atau ganda gerakan LL/Jalur.
Denda Rp 10.000—Motor
Denda Rp 25.000—Mobil

61 (1) Yo Psl. 23 (1) d Yp Psl 8 (1) d UULAJ Yo Psl. 22 (2) PP 43/93
Mengemudikan kendaraan bermotor di jalan melanggar marka jalan sebagai garis berhenti bagi kendaraan bermotor yang diwajibkan oleh alat pemberi isyarat lalu lintas atau rambu stop.
Denda Rp 10.000—Motor
Denda Rp 15.000—Mobil

57 (2) Yo Psl. 14 (2) UULAJ Yo Psl 197 (1) & (3) PP 44/93
Mengemudikan kendaraan bermotor tidak dapat menunjukkan STNK atau STCK beserta BTCK.
Denda Rp 20.000—Motor
Denda Rp 50.000—Mobil

Lengkapnya sih bisa anda lihat di sini

Ini blogers yang menyuarakan tentang tips tilang juga:
Pungli
thedika

Dan masih banyak yang lain.
Semoga bermanfaat.

3 Tanggapan

  1. wah…mantap mas ulasannya….aq copas yach di blog ku🙂 thanks

    boleh aja, tapi jangan copy paste ah…ngga enak dengernya…kasih tambahan atau sanggahan deh…

  2. polantas mah rata2 maling semua

    ini namanya nila setitik, rusak susu sebelahnya wekekeke

  3. Pak. Mau nanyak nih. Gimana kalau kita pake motor gak punya SIM, ataupun SIM ketinggalan, terus ada razia dan kita di tahan, dan Polisi bilang motornya hrs di tahan. Apa betul begitu aturannya mas? Mhn penjelasannya. Kalau bisa via email aja ya mas? Aku tunggu jwbnya di emailku marin_kurniawan@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: